Mari saudaraku bergandengan tangan menyatukan hati dan pikiran untuk saling mengingatkan untuk dapat membangkitkan kekuatan luar biasa dalam diri anugerah yang Kuasa sebagai bekal untuk menjaga alam ini yang dapat kita digunakan untuk menarik apa saja dari alam semesta, meraih kehidupan yang bahagia, sehat, sukses penuh kedamaian...salam bahagia..agus sutiyono
Sunday, June 29, 2008
Dalam rangka memberikan layanan konsultasi dan empowerment bagi masyarakat dalam meningkatkan kualitas kehidupan baik mental dan spiritual kami melayani anda setiap Minggu Malam Jam 19.00-21.00 dalam acara Klinik Therapi Reiki. Kami memberikan layanan langsung melalui no telp 02179190413 (on Line)
salam bahagia
agus sutiyono
salam bahagia
agus sutiyono
Friday, May 16, 2008
MIND RECHARGE PROGRAM
ORIFLAME
Dalam rangka mengembangkan kualitas para consultant di Oriflame, diselengarakan motivation program yang diberi judul Mind Recharge. Program ini mengajak para consultant di oriflame mampu membangkitkan kekuatan luar biasa pemberian Tuhan Yang Maha Esa sebagai bekal mengembangakamn fungsi kekahlifahan di Dunia. Program ini diikuti kurang lebih 300 peserta dari berbagai jenjang yang ada dalam program Oriflame.
Tuesday, March 25, 2008
SUKSES
MENURUT
QURAN
"Dan (ingatlah) di waktu Tuhan kalian memperingatkan. Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmati-Ku kepada kalian; dan jika kalian mengingkarinya, maka azab-Ku amat berat sekali". (Al-Qur'an, Surat Ibrahim: 7)
"(yaitu) bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya". (Al-Qur'an, Surat Al-Muddatstsir: 37 – 38)
"Dan jika kamu berbuat kebaikan, maka kamu berbuat kebaikan untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kamu sendiri yang akan menderita". (Al-Qur'an, Surat Al-Isra: 7)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (Al-Qur'an, Surat Ar-Ra'd: 11)
"dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain dari apa yang telah diusahakannya". (Al-Qur'an, Surat An-Najm: 39)
"Dan bagi masing - masing orang memperoleh derajat - derajat ( seimbang ) dengan apa yang dikerjakannya". (Al-Qur'an, Surat Al An’aam : 132)
"Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati esok". (Hadits Riwayat Turmudzi)
"Sesungguhnya Allah Suka Melihat wujud nikmatNya atas hambaNya". (Hadits Riwayat Turmudzi)
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh, jika salah seorang di antara kalian berangkat pagi untuk mencari kayu yang ia panggul di atas punggungnya, lalu ia menyedekahkannya dan tidak memerlukan pemberian manusia; maka itu adalah lebih baik daripada ia meminta kepada seseorang, baik orang lain itu memberinya ataupun tidak. Karena, tangan yang di atas (yang memberi) lebih utama daripada tangan yang di bawah (yang menerima). Dan mulailah dengan orang yang engkau tanggung". (Hadits Riwayat Abu Hurairah
"(yaitu) bagi siapa saja di antaramu yang berkehendak akan maju atau mundur. Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya". (Al-Qur'an, Surat Al-Muddatstsir: 37 – 38)
"Dan jika kamu berbuat kebaikan, maka kamu berbuat kebaikan untuk dirimu sendiri. Dan jika kamu berbuat jahat, maka kamu sendiri yang akan menderita". (Al-Qur'an, Surat Al-Isra: 7)
"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri". (Al-Qur'an, Surat Ar-Ra'd: 11)
"dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain dari apa yang telah diusahakannya". (Al-Qur'an, Surat An-Najm: 39)
"Dan bagi masing - masing orang memperoleh derajat - derajat ( seimbang ) dengan apa yang dikerjakannya". (Al-Qur'an, Surat Al An’aam : 132)
"Bekerjalah untuk duniamu seakan – akan kamu hidup selamanya. Dan bekerjalah untuk akhiratmu seakan – akan kamu mati esok". (Hadits Riwayat Turmudzi)
"Sesungguhnya Allah Suka Melihat wujud nikmatNya atas hambaNya". (Hadits Riwayat Turmudzi)
Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda: "Sungguh, jika salah seorang di antara kalian berangkat pagi untuk mencari kayu yang ia panggul di atas punggungnya, lalu ia menyedekahkannya dan tidak memerlukan pemberian manusia; maka itu adalah lebih baik daripada ia meminta kepada seseorang, baik orang lain itu memberinya ataupun tidak. Karena, tangan yang di atas (yang memberi) lebih utama daripada tangan yang di bawah (yang menerima). Dan mulailah dengan orang yang engkau tanggung". (Hadits Riwayat Abu Hurairah
Monday, March 24, 2008
Manusia Pengelola
Alam Semesta
Manusia sebagai makhluk yang telah diberikan amanat oleh Allah SWT untuk mengelola bumi sudah semestinya mengimplementasikannya hal tersebut demi terwujudnya rahmat bagi semesta alam. Amanat yang di berikan kepada manusia bertitik tolak dari ketidakmampuan ‘langit’ dan ‘bumi’ untuk memikul tanggungjawab tersebut, maka manusialah yang menerima amanat tersebut karena akal fikiran yang dimiliki oleh manusia (QS. 33:72). Amanat merupakan ciri yang membedakan antara manusia dengan yang lainnya, amanat yang diemban yaitu berupa kesadaran akan tanggungjawabnya sebagai khalifah di muka bumi, dalam hal ini konsep manusia dalam Islam sebagai pemelihara (baca; pengelola) alam semesta, ‘sesungguhnya Aku telah menjadikan khalifah dimuka bumi’ (QS. 2:30) begitu sebuah ayat menyebutnya. Kualitas kekhalifahan seorang manusia menjadi tersempurnakan dengan ke’ubûdiyyah-annya (kehambaannya) terhadap Tuhan, sebagai hamba Allah manusia harus patuh terhadap-Nya, di samping sebagai makhluk yang memikirkan dan merenungkan penciptaan alam semesta (QS. 3:191), dalam hal ini manusia memiliki sifat vertical dan horizontal. Salah satu manifestasi dari kepatuhan terhadap Tuhan yaitu dengan memelihara keseimbangan ekosistem di mana manusia merupakan bagian dari ekosistem tersebut, karena manusia memainkan peranan yang penting dalam hal ini. Secara lahiriah manusia adalah microcosmos dari alam semesta ini, akan tetapi dari segi batiniah manusia adalah macrocosmos dari alam secara keseluruhannya.
Alam semesta merupakan manifestasi dari keindahan Tuhan yang dibaliknya tersembunyi kekuasaan-Nya, karena keindahan alam tercipta melalui kuasa-Nya yang terwujudkan dalam bentuk sunnahtullah yang tertata. Sunnahtullah merupakan hukum alam yang mengharuskan manusia untuk patuh kepada ketetapan-Nya, dan hal tersebut terkait dengan kehendak-Nya (irâdah-Nya). Apa yang telah ditetapkan tidak akan didapati padanya suatu perubahan kecuali atas kehendak-Nya, yaitu ketentuan Tuhan yang terdapat pada sesuatu yang menyebabkan terjadinya suatu hukum atau jalan hidup. Dalam hal irâdah ini terdapat dua hal, yaitu; pertama irâdah yang berbentuk paksaan terhadap pengadaan sesuatu, seperti; peristiwa-peristiwa alam yang terjadi setiap hari (irâdah takwinah), kedua irâdah yang dalam pengadaan sesuatu ia berbentuk ikhtiar (pilihan/usaha), seperti; makan, minum dan lain sebagainya (irâdah tasyri’iyah)[1]. Kehendak yang berkaitan dengan unsur kemanusiaan tidak dengan serta merta membuat manusia berbuat menurut hawa nafsunya karena hal tersebut akan berkaitan dengan faktor-faktor eksternal yang mengelilinginya, misalnya, lingkungan yang telah, sedang dan akan memberikan pengaruh bagi manusia.
Manusia dengan keberadaannya yang merupakan bagian dari alam semesta tidak diutus tanpa adanya bimbingan, yang mana bimbingan tersebut merupakan anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan yang berupa; head, heart dan hand. “Head bekerja dalan tataran bahasa abstraksi, heart memberikan energi dan motivasi lalu hand bekerja dengan melaksanakan cetak biru head dan kehendak heart untuk diwujudkan dalam praktik”[2]
. Ketiga instrument itulah yang telah mewujudkan sebuah tujuan yang hendak dicapai oleh manusia sebagai kahlifah di muka bumi, yaitu sebuah kebahagiaan. Banyak saran-sarana yang bisa dipergunakan manusia untuk mencapai tujuan tersebut, seperti melaui pelestarian alam. Kejadian alam semesta yang di mana manusia merupakan bagian darinya, menuntunnya kepada kebahagiaan yang hakiki maka sudah sepatutnyalah bagi manusia untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang di mana mereka tinggal. Dengan memelihara keseimbangan ekosistem akan banyak keuntungan yang didapatkan oleh manusia, begitupun sebaliknya, tanpa adanya pemeliharaan terhadap keseimbangan ekosistem maka tidak sedikit bencana yang manimpa manusia, “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. 30:41). Unsur manusialah yang menjadi tolak ukur bagi terciptanya keseimbangan alam.
[1] Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Memahami Esensi al Qur’an, terj. (Jakarta: Lentera, cet.III, 2003), h. 21
[2] Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme, (Jakarta: Penerbit Hikmah, cet. VI, 2006), h.
Alam Semesta
Manusia sebagai makhluk yang telah diberikan amanat oleh Allah SWT untuk mengelola bumi sudah semestinya mengimplementasikannya hal tersebut demi terwujudnya rahmat bagi semesta alam. Amanat yang di berikan kepada manusia bertitik tolak dari ketidakmampuan ‘langit’ dan ‘bumi’ untuk memikul tanggungjawab tersebut, maka manusialah yang menerima amanat tersebut karena akal fikiran yang dimiliki oleh manusia (QS. 33:72). Amanat merupakan ciri yang membedakan antara manusia dengan yang lainnya, amanat yang diemban yaitu berupa kesadaran akan tanggungjawabnya sebagai khalifah di muka bumi, dalam hal ini konsep manusia dalam Islam sebagai pemelihara (baca; pengelola) alam semesta, ‘sesungguhnya Aku telah menjadikan khalifah dimuka bumi’ (QS. 2:30) begitu sebuah ayat menyebutnya. Kualitas kekhalifahan seorang manusia menjadi tersempurnakan dengan ke’ubûdiyyah-annya (kehambaannya) terhadap Tuhan, sebagai hamba Allah manusia harus patuh terhadap-Nya, di samping sebagai makhluk yang memikirkan dan merenungkan penciptaan alam semesta (QS. 3:191), dalam hal ini manusia memiliki sifat vertical dan horizontal. Salah satu manifestasi dari kepatuhan terhadap Tuhan yaitu dengan memelihara keseimbangan ekosistem di mana manusia merupakan bagian dari ekosistem tersebut, karena manusia memainkan peranan yang penting dalam hal ini. Secara lahiriah manusia adalah microcosmos dari alam semesta ini, akan tetapi dari segi batiniah manusia adalah macrocosmos dari alam secara keseluruhannya.
Alam semesta merupakan manifestasi dari keindahan Tuhan yang dibaliknya tersembunyi kekuasaan-Nya, karena keindahan alam tercipta melalui kuasa-Nya yang terwujudkan dalam bentuk sunnahtullah yang tertata. Sunnahtullah merupakan hukum alam yang mengharuskan manusia untuk patuh kepada ketetapan-Nya, dan hal tersebut terkait dengan kehendak-Nya (irâdah-Nya). Apa yang telah ditetapkan tidak akan didapati padanya suatu perubahan kecuali atas kehendak-Nya, yaitu ketentuan Tuhan yang terdapat pada sesuatu yang menyebabkan terjadinya suatu hukum atau jalan hidup. Dalam hal irâdah ini terdapat dua hal, yaitu; pertama irâdah yang berbentuk paksaan terhadap pengadaan sesuatu, seperti; peristiwa-peristiwa alam yang terjadi setiap hari (irâdah takwinah), kedua irâdah yang dalam pengadaan sesuatu ia berbentuk ikhtiar (pilihan/usaha), seperti; makan, minum dan lain sebagainya (irâdah tasyri’iyah)[1]. Kehendak yang berkaitan dengan unsur kemanusiaan tidak dengan serta merta membuat manusia berbuat menurut hawa nafsunya karena hal tersebut akan berkaitan dengan faktor-faktor eksternal yang mengelilinginya, misalnya, lingkungan yang telah, sedang dan akan memberikan pengaruh bagi manusia.
Manusia dengan keberadaannya yang merupakan bagian dari alam semesta tidak diutus tanpa adanya bimbingan, yang mana bimbingan tersebut merupakan anugerah yang telah diberikan oleh Tuhan yang berupa; head, heart dan hand. “Head bekerja dalan tataran bahasa abstraksi, heart memberikan energi dan motivasi lalu hand bekerja dengan melaksanakan cetak biru head dan kehendak heart untuk diwujudkan dalam praktik”[2]
. Ketiga instrument itulah yang telah mewujudkan sebuah tujuan yang hendak dicapai oleh manusia sebagai kahlifah di muka bumi, yaitu sebuah kebahagiaan. Banyak saran-sarana yang bisa dipergunakan manusia untuk mencapai tujuan tersebut, seperti melaui pelestarian alam. Kejadian alam semesta yang di mana manusia merupakan bagian darinya, menuntunnya kepada kebahagiaan yang hakiki maka sudah sepatutnyalah bagi manusia untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang di mana mereka tinggal. Dengan memelihara keseimbangan ekosistem akan banyak keuntungan yang didapatkan oleh manusia, begitupun sebaliknya, tanpa adanya pemeliharaan terhadap keseimbangan ekosistem maka tidak sedikit bencana yang manimpa manusia, “telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagaian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)” (QS. 30:41). Unsur manusialah yang menjadi tolak ukur bagi terciptanya keseimbangan alam.
[1] Sayyid Muhammad Husain Thabathaba’i, Memahami Esensi al Qur’an, terj. (Jakarta: Lentera, cet.III, 2003), h. 21
[2] Komaruddin Hidayat, Psikologi Kematian: Mengubah Ketakutan Menjadi Optimisme, (Jakarta: Penerbit Hikmah, cet. VI, 2006), h.
Subscribe to:
Posts (Atom)

